Sastra monolog? Apa itu? Kita lihat
pengertiannya dan baca salah satu naskah monolog terkenal karya sastrawan kita
yuk.
Monolog berasal dari bahasa Yunani yang terdiri
dari mono artinya satu dan legein artinya berbicara. Jadi monolog
artinya satu orang yang berbicara. Hanya satu orang yang menentukan pokok
pembicaraan dan yang lainnya diam saja.
Misal, si A
berbicara dengan si B. Hanya si A yang berbicara, si B hanya berdiam. Dalam
keadaan seperti itu antara si A dan si B telah terjadi monolog. Hanya satu
orang yang menentukan pembicaraan.
Atau bisa kita ambil
dalam contoh lain. Misalkan Pak RT pidato di depan warganya tentang pembangunan
rumah ibadah, hal ini juga merupakan monolog. Jadi monolog memiliki satu komunikator dan komunikannya
bisa satu orang atau lebih. Lantas, jika komunikan tidak berbicara apakah ada
feedback? Dalam hal ini tetap ada feedback, namun lambang komunikasi yang digunakan
adalah diam.
Apakah dalam monolog
terjadi proses komunikasi? Proses komunikasi
adalah tahapan-tahapan peristiwa yang terjadi dalam usaha manusia menyampaikan
isi pernyataannya kepada manusia lain. Dalam proses komunikasi paling sedikit
harus memenuhi tiga unsur, yaitu komunikator.
komunikan dan isi pernyataan.
TOPENG-TOPENG
(RACHMAN SABUR)
(RACHMAN SABUR)
DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN
KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM
YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN.
ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI
BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU
BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI
PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN
PUTIH.
PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.
“Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?
Kalau saja, saya bisa percaya…”
PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.
“Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?
Kalau saja, saya bisa percaya…”
Read more: http://bandarnaskah.blogspot.com/2010/03/monolog-topeng-topeng-rachman-sabur.html#ixzz3De6BQ6Ic
Wajah kita adalah topeng-topeng.
Semua wajah bertopeng
Topengku dan topengmu saling menterjemahkan
isyarat
Ayo! Siapa diantara kita bersedia menanggalkan
topeng dirinya?
Aku tahu wajahmu dan kaupun tahu wajahku
Topengmu dan topengku saling menatap jahat!
Wajah-wajah dibalik topeng
Topeng-topeng bercengkrama dipanggung hidup
Lalu saling bunuh!
Topengmu dan topengku bergerak terus bergerak
Menarikan kehidupan
Menarikan kematian………….
Sebelum saya menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabat saya, kiranya saya perlu menjelaskan, bahwa saya bukan lagi seorang Waska. Saya adalah seorang Semar. Dan siapa bilang saya ini sudah mati ? He……. he…….. he…….. itu kan hanya dalam lakon sandiwara saja. Sungguh saudara! Saya belum mati. Saya belum ingin mati. Saya masih cinta hidup. Kecintaan saya terhadap kehidupan ini begitu luar biasa ! kalau ada yang mendengar kabar bahwa saya telah mati, itu isyu ! jangan percaya ! orang saya masih hidup, dikatakan sudah mati ? bagaimana ini ? lalu dikatakan juga bahwa saya ini, katanya pernah bertemu dengan malaikat Jibril ? bohong itu ! Lha, saya hanya pernah bermimpi ketemu dengan almarhum Mbah saya. Masa Mbah saya dikatan malaikat ? itu mengada-ada……. Itu berlebihan. Jangan-jangan malaikat Jibril nantinya tersinggung dan almarhum Mbah saya juga tersinggung oleh fitnah ini.
Baik, sekarang pertanyaan mana lagi yang belum saya jawab ?
Oh ya ! tentang proyek “Jembatan Surga “. Proyek itu adalah proyek kemanusiaan - religi yang paralel dengan bisnis juga. Tidak apa-apa kan ? halalkan ? proyek itu juga bisa dikatakan sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki yang berlimpah. Karena terus terang saja, kehidupan saya sebelumnya tidak seperti sekarang ini. Astaga ! saya jadi teringat kembali ke masa hidup saya dulu. Masa sulit dan pailit……… Tapi maaf………. Sekali lagi saya mohon maaf …….. saya harus segera pergi. Saya harus memimpin rapat para pemegang saham. Saya pikir, saya sudah menjawab semua pertanyaan. Maaf, saya harus segera pergi.
Itu adalah salah satu
naskah monolog yang paling saya suka, ceritanya menggambarkan bagaimana
perbedaan dan persamaan dalam dalam lakon kehidupan rakyat jelata dan rakyat
sejahtera. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa menonton video tersebut di
youtube. Agar kalian lebih jelas lagi memahami isi naskahnya. Happy blogging,
semoga bermanfaat J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar